wew, ada batu bisa jalan
Salah satu hal yang paling menarik ketika lo lagi liburan di daerah Taman Nasional Death Valley, California, Amerika Serikat adalah soal slidding rock atau batuan yang bergeser dengan sendirinya dengan jejak yang terlihat jelas dibelakangnya. Daerah tempat ditemukannya batu-batu ini dinamakan Racetrack Playa. Racetrack ini sendiri diambil dari kenampakan batuan yang bergerak tersebut yang meninggalkan jejak (track) dibelakangnya yang seakan-akan saling mengejar satu sama lain. Sedangkan Playa sendiri berarti danau yang kering tanpa air di dalamnya.
Hal yang menjadi sangat menarik untuk dipelajari disini bukan soal adanya batu-batu tersebut di sana tapi soal “bagaimana batu-batu tersebut dengan berat beberapa pon itu dapat bergerak satu sama lain dengan sendirinya??”
Banyak orang yang mulai berspekulasi tentang kenampakan unik tersebut, Namun sampai saat ini, belum ada yang memiliki bukti kuat bagaimana caranya batu-batu tersebut dapat berpindah dengan meninggalkan jejak dibelakangnya. Ya pastilah, karena sampai saat ini pun belum ada yang benar-benar melihat batu-batu tersebut bergerak.
Kalau kita lihat dari daerah tempat ditemukannya batu-batu tersebut, yaitu Racetrack Playa, merupakan suatu danau kering yang terletak di daerah Taman Nasional Death Valley, Callifornia Amerika Serikat, yang memiliki panjang kurang lebih 4 kilometer dengan lebar kurang lebih 2 kilometer dengan bidang permukaannya yang hampir mendekati datar secara sempurna, dimana hampir tidak mungkin pergerakan batu-batu tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan elevasi.
Permukaan danau ini terdiri dari lempung dan lanau (mud) yang membentuk struktur sedimen mudcrack. Mudcrack merupakan suatu struktur sedimen yang biasa terbentuk pada lapisan batuan lempung atau lanau (mud) yang pada permukaannya terdapat rekahan-rekahan akibat dari pengaruh suhu. Litologi batuan yang ada di daerah ini sebagian besar merupakan material berbutir halus dimana 24% merupakan pasir berukuran halus, 41% merupakan lempung dan 35% merupakan lanau. Sedangkan batu-batu yang ditemukan bergeser tersebut pada dasarnya merupakan hasil runtuhan dari tebing-tebing dolomit terjal yang berada di sekeliling danau kering tersebut.
Iklim pada daerah ini tergolong gersang, hal ini ditunjukan dari curah hujan yang rata-rata hanya beberapa inchi setiap tahunnya. Walaupun begitu, ketika hujan, gunung-gunung terjal yang berada di sektiar danau tersebut dapat menghasilkan runoff yang kemudian terkumpul di dasar danau dan membentuk suatu genangan air dangkal. Runoff merupakan suatu aliran air yang terjadi akibat adanya kelerengan pada tempat mengalirnya dan biasa terjadi pada daerah lereng pegunungan dan tempat-tempat lainnya yang memiliki kelerengan. Setelah kering, danau tersebut akan meninggalkan sisa-sisa air yang ditunjukkan dengan adanya permukaan yang licin akibat adanya air yang terjebak diantara lempung dan lanau tersebut. Namun pada kondisi tertentu seperti layaknya terjadi pada daerah gersang lainnya pada malam hari suhu di daerah tersebut dapat menurun drastis sehingga sisa-sisa air yang berada pada daerah tersebut dapat berubah menjadi es.
satu hal yang dapat kita simpulkan bahwa pergerakan batu-batu tersebut dipengaruhi oleh: masa batu, koefisien gesekan, dan faktor-faktor luar
Lalu, apa faktor luat tersebut dan bagaimana batu-batu tersebut dapat bergerak??
Banyak hal yang bisa membuat batu-batu ini bergerak,
1. Gara-gara orang atau binatang iseng
Daerah Racetrack Playa sesungguhnya merupakan suatu daerah gersang dimana juga memiliki keterbatasan akan keberadaan yang namanya makhluk hidup. Manusia dan binatang memang dapat membuat batu-batu tersebut berpindah, namun jika dilihat lebih seksama hampir di semua batu, tidak terdapat jejak2 lainnya selain jejak dari batu itu sendiri, lagi pula buat apa juga manusia dan binatang dateng jauh-jauh dari habitat mereka ke sini cuman buat dorong-dorong batu.
Peluang dari analisis ini: 5%
2. Gara-gara angin
Mengingat daerah Racetrack Playa merupakan salah satu bentukan dari bentang alam eolian, maka tidak salah jika angin dipertimbangkan sebagai pelaku dari berpindahnya batu-batu disana. Adanya keberadaan angin disana mampu menggerakkan batu-batu yang ada disana tampaknya sangat mungkin, Jika dilihat dari rata-rata kecepatan angin yang berhembus di daerah tersebut adalah sekitar 5.064 m/s. Dari kecepatan tersebut tampaknya sangat mungkin dapat memindahkan batu yang memiliki berat beberapa pon walaupun dalam waktu yang lama dan hal itu ditunjang lagi dengan adanya kondisi permukaan yang licin pada danau setelah terjadi genang air di dalamnya. Hal ini didukung dengan penelitian terhadap batu-batu tersebut dimana sebagian besar arah pergerakan batu searah dengan arah gaerakan angin yang cenderung bergerak dari arah timur laut menuju barat daya pada waktu-waktu tertentu.
Hal ini didukung dengan jejak (track) dari batu itu sendiri yang cenderung terbentuk pada selatan daerah tersebut, dimana pada selatan daerah tersebut terakumulasi jumlah angin dengan kecepatan yang tinggi yang sempat terekam sekitar bulan juli 1996.
Pada gambar terlihat adanya akumulasi pada bagian selatan daerah Racetrack Playa yang diikuti dengan adanya akumulasi jejak (track) yang cukup banyak terletak juga pada bagian selatan daerah tersebut. Hal ini memperkuat dugaan bahwa angin merupakan salah satu indikator utama dalam pergerakan batu-batu disana.
Namun analisis dari teori ini sulit untuk mejelaskan bagaimana terdapat jejak (track) secara pararel yang terbentuk pada beberapa jejak (track) batuan disana.
Peluang dari analisis ini: 55%
3. Gara-gara es
Ketika terjadi penggenangan air karena adanya akumulasi runoff selama hujan, genangan air yang berada pada daeah datar tersebut berubah menjadi es seiring dengan penurunan suhu yang ekstrim pada saat-saat tertentu. Adanya akumulasi es yang signifikan ini menyebabkan terbentuknya suatu ice sheet yang menutupi dataran tersebut. Seperti yang terjadi pada daerah glasial pada umunya, ice sheet merupakan suatu masa es yang menutupi permukaan suatu wilayah dan bergerak pada area yang luas, sehingga dapat menjelaskan kenampakan pada batu yang memiliki jejak saling pararel satu sama lain.
Namun bukan tanpa celah, analisis ini juga tidak dapat menjelaskan bagaimana bisa terbentuk jejak (track) dengan bentuk menyudut dapat terbentuk.
Peluang dari analisis: 40%
Disamping dari analisis di atas, jauh setelah Indonesia merdeka sebenarnya beberapa ahli telah meneliti tentang fenomena ini diantaranya ada Stanley, Sharp dan Carey, dan Reid dengan teori-teori yang tentunya mumpuni.
Pada tahun 1976 Robert Sharp dan Dwight Carey pernah mengemukakan bahwa adanya suatu bentuk geometri dan karakteristik pada jejak yang ditinggalkan relatif terhadap satu sama lain menjadikan ice sheet tidak dapat dijadikan sebagai indikator dalam pergerakan batu ini.
Pada tahun yang sama mereka juga mengemukakan bahwa angin mampu menggerakkan batu ketika kondisinya tepat, hal ini biasa terjadi setiap satu sampai tiga kali setahun di daerah ini.
Pada tahun 1995, John B. Reid, Jr dan beberapa geologist lainnya dari Universitas Hampshire tidak setuju dengan teori yang dikemukakan oleh Sharp dan Carey. Menggunakan data yang didasarkan dari penelitian mereka terhadap tujuh lembah di daerah Death Valley sejak tahun 1980 sampai 1994, mereka mendukung soal hipotesis dari Stanley. Reid membandingkan jejak dan sebagian besar pergerakannya memiliki bentuk yang kongruen. Beberapa diantaranya cenderung memiliki bentuk yang menyimpang pada ujung dari jejak (track) dan mereka menyimpulkan bahwa adanya ice sheet mampu memecah batu-batu ketika tejadi pelelehan es.
Reid juga mengemukakan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan, permukaan Playa memiliki koefisien gesekan yang cukup tinggi, sehingga faktor angin saja tidak mampu untuk menggerakkan batu yang memiliki berat dan koefisien gesekan yang besar. Reid menyimpulkan bahwa jejak (track) yang kongruen dalam skala yang luas serta resistensi dari batu yang kuat yang hanya bisa dilakukan oleh es.
Setelah itu Sharp dan Carey juga membuat pembelaan atas teorinya dengan menyebut bahwa pada beberapa kasus batu terdapat beberapa geometri dengan bentruk jejak yang menyilang dan membentuk sudut yang tidak dapat dijelaskan dengan terori pergerakan ice sheet. Sharp dan Carey juga menyebutkan bahwa Reid terlalu ceroboh membuat pernyataan terhadap koefisien gesekan, yang menurut Sharp dan Carey koefisien gesekan yang ada pada daerah Racetrack Playa cenderung berkurang seiring dengan adanya banjir yang membuat permukaan Playa menjadi licin.
Setelah itu Reid menambahkan bahwa ia tidak menyangkal teori dari Sharp dan Carey namun ia berpendapat bahwa dua mekanisme tersebut harus ada di dalam pergerakan batu tersebut.
Sumber:
http://geology.com/articles/racetrack-playa-sliding-rocks.shtml
http://sophia.smith.edu/~lfletche/deathvalley.html
http://www.neiu.edu/~kbartels/Photos/DeathValley/Racetrack.htm
http://geosun.sjsu.edu/paula/rtp/dissertation/title.html
http://geosun.sjsu.edu/paula/rtp/intro.html
Foto:
Karen S. Bartels, Ph.D
John Alcorn
Paul Messina







tampan 5:34 pm on August 12, 2010 Permalink |
promosi blog toh,haha,,
tapi keren koq..